November 22, 2007...7:17 am

APA YANG HARUS KITA AJARKAN UNTUK ANAK-ANAK KITA DALAM MENGHADAPI ABAD KE-21?

Jump to Comments

Di era  80-an Amerika mulai menyadari adanaya krisis nasional tentang dunia pendidikan. Mereka mulai menyadari adanya beberapa ketidakberesan dalam sistem pendidikan mereka. Institusi pendidikan dan masyarakatnya telah kehilangan visi tentang tujuan dasar dari pendidikan. Setelah 18 bulan melakukan penelitian mereka menghasilkan suatu laporan yang mengusulkan adanya reformasi dalam dunia pendidikan serta memperbaharui komitmen nasional mengenai sekolah dan perguruan tinggi. Dua puluh tahun kemudian, tahun 2001, hukum  public NCLB (No Children Left Behind Act)  yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja dari sekolah dasar melalui peningkatan standar pertanggungjawaban (standard accountability) dari  Negara bagian, sekolah distrik dan sekolah dengan cara memberikan pilihan yang lebih fleksibel kepada orang tua untuk memilih sekolah mana yang akan dipilih untuk anaknya.

 

Lebih jauh, NCLB telah menjadikan teori reformasi berdasarkan standar (Standard-based education reform) menjadi sebuah hukum. Teori ini disebut juga sebagai pendidikan berbasis hasil (outcome-based education). Teori ini berdasarkan keyakinan bahwa ekspetasi dan setting tujuan yang tinggi akan menghasilkan kesuksesan bagi semua siswa (Wikipedia). Kurang lebih dua tahun kemudian, tahun 2002, sekelompok eksekutif yang bergerak dalam bidang bisnis teknologi dunia diantaranya, Intel co., Microsoft, Cysco system, AOL dan masih banyak anggota lainnya yang terlibat dalam pembentukan pandangan baru tentang dunia pendidikan. Mereka semua berkumpul membentuk partnership atau kemitraan dalam mewujudkan masyarakat yang melek teknologi (technology literasi) sehingga masyarakat siap untuk memasuki millennium atau abad ke-21 dengan keterampilan-keterampilan yang diperlukan pada abad millennium. Mereka berpendapat bahwa  saat ini terdapat kesenjangan apa yang akan dihadapi oleh siswa dengan apa yang mereka peroleh di dalam sekolah. Sekolah masih menekankan pembelajaran materi inti  atau core subject misalnya bahasa Inggris, matematika, sains, bahasa asing, geografi, civic, ekonomi, seni dan sejarah. Mereka berpendapat dengan hanya memberikan subjek atau materi diatas, anak didik belum siap untuk menghadapi kehidupan di abad ke-21 atau abad digital, karena hampir di seluruh bidang kehidupan baik itu tempat kerja, pertanian, rumah sakit, masyarakat, sekolah dan tempat belanja semuanya sudah serba digital. Mereka hidup di dalam dunia yang serba digital. Pandangan mereka tentang kehidupan berbeda dengan orang-orang dewasa di sekeliling mereka. Menurut Douglas Rushkoff (1999), di dalam permainan masa depan anak-anak saat ini merupakan model paling baru tentang manusia. Mereka melihat dunia tidak dengan cara melihat ke belakang atau masa lalu kita, tetapi mereka melihat ke jauh ke depan. Siapa yang belajar agama pertama kali? Siapa yang mengadopsi estetika, budaya dan nilai-nilai spiritual dari Negara baru? Maka siswa itulah yang siap memasuki abad ke-21 ketika mereka menjadi keluarga imigran di Negara baru, demikian kata Rushkoff. Alvin Toffler (2000) menyatakan bahwa di abad ke-21, literasi membaca atau kemampuan membaca tidak lagi dijadikan sebagai tolok ukur seseorang. Menurut dia pada abad ke-21 orang dikelompokkan tidak lagi dengan orang yang buta huruf dan melek huruf tetapi menjadi orang yang tidak dapat belajar (cannot learn), orang tidak belajar (unlearn) dan orang yang terus belajar (relearn). Sebagai gambaran, saat ini hampir 65% anak Amerika yang berusia antara 2 – 17 tahun sudah online dengan internet, dan hal ini terus bertambah setiap bulannya sekitar 2 juta pengguna baru. Apa yang dikerjakan oleh mereka dalam dunia maya dapat dilihat dari hasil laporan  

Partnership 21st for Century Skills merupakan organisasi privat public yang unik dari para pemimpin bisnis dan pendidik yang bekerja sama untuk membantu sekolah untuk memenuhi kebutuhan dunia pendidikan di abad ke-21. Mereka telah menawarkan kerangka tindakan baru dalam dunia pendidikan serta menyiapkan petunjuk atau bimbingan untuk memulai tonggak baru untuk meningkatkan Pembelajaran dan Pendidikan (Milestone for Improving Learning and Education). Kerangka tindakan baru yang ditawarkan adalah dengan mengembangkan unsur –unsur kunci yang digambarkan dalam grafik. Grafik menggambarkan system yang mendukung keterampilan-keterampilan di abad ke-21 (digambarkan pada  bagian bawah) dan Produk siswa yang memiliki keterampilan di abad ke-21 (bagian yang berwarna pelangi. 

  Unsur-unsur di dalam Produk siswa di abad ke-21 (digambarkan dengan warna pelangi) merupakan keterampilan, pengetahuan dan keahlian siswa yang harus dikuasai agar sukses dalam dunia kerja dan kehidupan di abad ke-21. Unsur-unsur tersebut diantaranya adalah:A.  Produk siswa di abad ke-211.   Materi inti (core subjects) dan Tema-tema di abad ke-21 Penguasaan materi-materi inti dan tema-tema di abad ke-21 penting untuk dikuasai oleh siswa di abad ke-21. Materi-materi inti diantaranya adalah :a.   Bahasa Inggris, membacab.   Bahasa asingc.   Senid.   Matematikae.   Ekonomif.    Sainsg.   Geografih.   Sejarah, dani.    Civid dan PemerintahanSelain materi-materi inti di atas, sekolah harus bergerak dalam situasi focus pada kompetensi dasar dalam materi inti untuk menumbuhkan pemahaman konten akademik pada level yang lebih tinggi melalui pembentukan tema-tema interdisiplin abad ke-21 ke dalam materi inti. Tema-tema tersebut diantaranya adalah :a.   Kesadaran globalisasi (globar awareness)b.   Literasi wirausaha dan bisnis, ekonomi dan financial (financial, economic, business and entrepreneurial literacy)c.   Literasi kewargaanegara (civil literacy)d.   Literasi kesehatan (Health literacy)2.   Keterampilan berinovasi dan belajar, diantaranya adalah :a.   Keterampilan berinovasi dan kreativitasb.   Keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah c.   Keterampilan komunikasi dan kolaborasi3.   Keterampilan teknologi, Media dan Informasi , diantaranya adalah :a.   Literasi informasi (information literacy)b.   Literasi media (media literacy)c.   Literasi teknologi informasi dan komunikasi (Information, Communication and Technology literary- ICT).4.   Keterampilan Berkarir dan Hidup (Life and Career Skills), diantaranya adalah:a.   Fleksibilitas dan adaptabilitas (flexibility & Adaptability)b.   Inisiatif dan Tujuan hidup  (Initiative & Self Direction)c.   Keterampilan social dan lintas budaya ( Social & Cross-Cultural Skills)d.   Produktivititas dan akuntabilitas (Productivity & Accountability)e.   Kepemimpinan dan tanggung jawab (Leadership & Responsibility)B.   Sistem Yang Mendukung di Abad ke-21a.   Standar di abad ke-21b.   Assesment keterampilan di abad ke-21c.   Kurikulum dan pembelajaran di abad ke-21d.   Pengembangan profesi di abad ke-21e.   Lingkungan belajar di abad ke-21

1 Comment

Leave a Reply